INDUSTRI HULU MIGAS PASOK GAS UNTUK TRANSPORTASI

Thu, 05 September 2013 13:57 David Pratama

Home Berita

Jakarta—Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) kembali menunjukkan komitmennya untuk mendukung program konversi bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG) yang digagas pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan sembilan perjanjian jual beli gas (PJBG) untuk sektor transportasi antara enam kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS) dengan PT Pertamina (Persero) pada hari Kamis (5/9) di Jakarta.

Enam Kontraktor KKS tersebut adalah PT Pertamina EP (4 PJBG); PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ); PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO); PT Medco E&P Indonesia; Santos (Madura Offshore) Pty. Ltd; dan JOB Pertamina-Talisman Jambi Merang (JOB Jambi Merang). Kontraktor KKS ini akan memasok gas kepada PT Pertamina (Persero) yang kemudian akan mengubah gas tersebut menjadi compressed natural gas (CNG) yang akan digunakan sebagai bahan bakar untuk transportasi, di antaranya untuk busway.

"Total pasokan harian dari sembilan PJBG ini mencapai sekitar 30 MMSCFD. Kami berharap pasokan gas ini dapat mendukung program pemerintah untuk mengkonversi penggunaan BBM ke BBG," ujar Kepala Sub Bagian Komunikasi dan Protokol Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Agus Budiyanto.

Pasokan tersebut akan dialokasikan untuk Jawa Timur (10,2 MMSCFD); Jabodetabek (14,1 MMSCFD); Sumatera Selatan (1,35 MMSCFD); Sumatera Tengah (2 MMSCFD); dan Jambi (2 MMSCFD).

PJBG ini diperkirakan akan menghasilkan penerimaan bagi negara dan industri hulu migas sekitar US$184,78 juta. Dengan harga BBG sekitar Rp 3.100 per liter, maka apabila dibandingkan dengan pemakaian solar bersubsidi, pemakaian CNG untuk transportasi selama periode kontrak PJBG diperkirakan akan menghasilkan penghematan sekitar Rp 2,5 triliun. Sedangkan apabila dibandingkan dengan pemakaian solar tidak bersubsidi, penghematan dari pemakaian CNG selama periode kontrak diperkirakan akan mencapai Rp 7,8 triliun.

Agus menambahkan bahwa industri hulu migas berkomitmen tinggi untuk mendukung program konversi BBM ke BBG dengan menyediakan pasokan gas. Hanya saja, pasokan gas ini baru benar-benar bisa terealisasikan apabila infrastruktur yang diperlukan tersedia. "Penyediaan infrastruktur ini berada di luar wewenang industri hulu migas. Untuk itu, kami berharap pemangku kepentingan terkait dapat mendorong penyediaan infrastruktur ini sehingga pasokan bisa kami realisasikan," ujar Agus.

Top