Kinerja PHE ONWJ Terus Meningkat

Mon, 06 May 2013 12:23 David Pratama

Home Berita

Beroperasi sejak tahun 1971, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) dikenal kehandalannya mengelola lapangan minyak di lepas pantai (offshore). Wilayah ini membentang dari utara Cirebon sampai Kepulauan Seribu seluas 8.300 km2.

Pada kuartal I tahun 2013, PHE ONWJ berhasil mencapai produksi minyak rata-rata harian sebesar 37.900 bopd atau 4 persen lebih tinggi dari target yang ditetapkan dalam WP&B yang disetujui oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sedangkan untuk produksi gas, PHE ONWJ juga berhasil melebihi target produksi gas yang mencapai 212 mmscfd atau 10 persen lebih tinggi dari target WP&B. PHE ONWJ tercatat sebagai salah satu penyumbang produksi minyak dan gas terbesar di Indonesia.

Dalam melaksanakan kegiatan operasinya, selain upaya untuk meningkatkan produksi migas, PHE ONWJ juga sangat memperhatikan aspek keselamatan kerja dan lingkungan hidup. Hingga awal Mei 2013, PHE ONWJ telah mencapai 19,7 juta jam kerja tanpa kecelakaan dan mendapatkan penghargaan Zero Accident dari Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sedangkan dalam aspek lingkungan hidup, PHE ONWJ berhasil mempertahankan penghargaan PROPER Hijau dari Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2012. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang telah melebihi persyaratan lingkungan yang ditetapkan, yaitu selain taat terhadap peraturan lingkungan hidup juga telah mencapai keunggulan lingkungan melalui integrasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

PHE ONWJ selalu menjalankan empat prinsip kerja, yaitu operasi yang aman dan handal, meningkatkan produksi secara efisien dan komersal, fokus kepada aktivitas penambahan cadangan, dan pengembangan sumber daya manusia. Atas dasar itu, PHE ONWJ terus melakukan berbagai kegiatan agar produksi minyak dan gas di blok ONWJ dapat dioptimalkan untuk mendukung visi Pertamina untuk menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia. Beberapa kegiatan yang dilakukan pada 2013 antara lain kegiatan seismic 3D, pemboran 27 sumur dengan menggunakan 3 rig, pengembangan lapangan baru dan pemeliharaan fasilitas produksi, termasuk proyek LIMA Subsidence Remediation.

Proyek LIMA Subsidence Remediation
Untuk menjaga operasi yang aman dan handal, PHE ONWJ akan melakukan perbaikan anjungan LIMA Flowstation (anjungan lepas pantai) yang mengalami penurunan (subsidence) dasar laut yang disebabkan oleh kompaksi batuan jauh di dalam tanah. Saat ini anjungan tersebut masih beroperasi dengan baik, namun jika dibiarkan dapat menyebabkan kondisi tidak aman untuk dioperasikan. Agar dapat beroperasi dengan baik dan aman dalam jangka panjang, anjungan perlu ditinggikan (deck raising).

Menghadapi kondisi tersebut, dengan persetujuan SKK Migas, PHE ONWJ telah melaksanakan study engineering yang komprehensif untuk penentuan metode yang paling tepat secara teknis, biaya dan keselamatan untuk pekerjaan remediasi anjungan LIMA ini. PHE ONWJ akan mengerjakan Proyek LIMA Subsidence Remediation dengan cara pengangkatan anjungan LIMA Flowstation (3 platform , 2 platform bridge, dan 1 flare bridge) setinggi 4 meter secara bersama-sama dengan metode "Synchronized Hydraulic Jacking System". Proses pengangkatan ini akan dimulai di bulan Agustus 2013 dan diharapkan selesai dalam waktu 2 bulan. Pengangkatan 5 struktur secara bersama ini merupakan aplikasi teknologi terbaru dengan skala terbesar di seluruh dunia.

Koordinasi dengan para stake holder, termasuk SKK Migas dan konsumen telah dan terus dilaksanakan untuk kesuksesan pelaksanaan proyek ini.

Top