Pengawas Internal: Perubahan Dimulai Dari Pimpinan

Wed, 18 September 2013 14:09 David Pratama

Home Berita

SKK Migas tengah menjadi sorotan publik terkait tuntutan pelaksanaan tata kelola yang baik. Bidang pengawasan internal sebagai “penjaga” internal SKK Migas mempunyai tugas yang tidak ringan. Selain membangun kesadaran seluruh pekerja SKK Migas bahwa good governance menjadi harga mati, SKK Migas perlu membangun kepercayaan stakeholders dan publik bahwa lembaga pengawas dan pengendali kegiatan hulu migas ini memiliki komitmen untuk lebih baik lagi.

Di tengah kondisi seperti ini, Budi Ibrahim yang sebelumnya hampir 4 tahun sejak masa BPMIGAS menjabat kepala divisi yang mengurusi Teknologi Informasi ditampuk menjadi pengawas internal. Dia berkeinginan membawa SKK Migas sebagai institusi kredibel yang mengedepankan integritas. “Semua bisa terwujud dengan dukungan segenap pekerja,” kata doktor lulusan bidang Pertukaran Data, Technische Universitaet Berlin, Jerman itu.

Seperti apa langkah dan upaya pembenahan yang dilakukannya?. Bagaimana upayanya meyakinkan pimpinan SKK Migas untuk menjadi pionir dalam perubahan yang sedang terjadi. Berikut petikan wawancara dengan pria yang sempat enam tahun menjadi Direktur Pengolahan Data dan Informasi, KPK itu:

Bagaimana bapak melihat situasi di SKK Migas?
Saat ini SKK Migas dalam posisi sangat sulit. Yang sedang dilalui adalah proses proyustisia oleh KPK. Ada pencekalan, penggeledahan, dan pemeriksaan pekerja SKK Migas. Proses ini akan berlangsung setidaknya tiga bulan ke depan. Kita mesti tabah dan mengambil pelajaran ini menjadi energi positif. Bukan malah menjadi semakin terpuruk. Ongkos belajar yang mahal ini harus bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita, terlalu berharga untuk dilewatkan. Ini kesempatan emas untuk Organisasi menjadi lebih baik, mulai dari level pimpinan.

Apa peran pengawas internal dalam kondisi ini?Terjadinya peristiwa hukum yang tidak diinginkan ini pada saat Tatakelola Organisasi sebetulnya telah menjadi lebih baik dengan telah adanya Komisi Pengawas dan juga pada saat fungsi pengawasan internal telah lebih diberdayakan dengan dinaikan levelnya. Ini yang menjadi pertanyaan umum untuk itu akan kita perlu cari apa permasalahannya dan dicari jalan keluar agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Saya berharap, pengawas internal dapat lebih berperan dalam deteksi dini, ini salah satu yang akan diperkuat. Kami juga ingin mengingatkan kembali terkait pengendalian gratifikasi, pedoman etika dll. Hal-hal tersebut adalah sesuatu yang mendasar. Jangan dilupakan pada saat Organisasi fokus pada peningkatan kinerja. Karena ketika terjadi kasus hukum, akan sangat berperngaruh pada kinerja organisasi.

Fungsi pengawasan internal apa yang masih perlu ditingkatkan?
yang belum berkembang adalah deteksi untuk pencegahan. Untuk menangkal terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, cara terbaiknya dengan mengetahui apa yang terjadi dalam tubuh kita sendiri dan faktor eksternal yang mempengaruhinya. Salah satu fungsi deteksi melalui WBS (whistle blowing system).

Salah satu metoda pencegahan juga bisa melalui SDM (sumber daya manusia). Contohnya, penugasan di area-area sensitif yang resikonya besar, yang banyak godaannya baik dari dalam maupun dari luar, sebaiknya jangan bertugas terlalu lama. Ketika banyak orang yang berkecimpung lama di area yang berisiko, itu menunjukkan sistem pencegahan yang kurang berjalan. Lamanya bertugas di satu tempat berpeluang besar seseorang jatuh dalam godaan. Sudah nyaman, melihat ada celah.

Kontrol internal bukan hanya menjadi tugas pengawas internal, tapi seluruh pimpinan dan pekerja. Bagaimana atasan berinteraksi dan memantau bawahannya. Contoh ekstrimnya, perubahan gaya hidup bisa menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan, menjadi alat deteksi. Perubahan gaya hidup bisa dipicu oleh sesuatu. Tidak mesti harus jelek. Tapi ada alasannya, ada risiko. Kita mesti dilatih untuk transparan. Sebagai pejabat dan pekerja diarea publik, privasi sering kali harus dikorbankan.

Optimis program WBS bisa efektif mengingat program ini sebenarnya sudah ada sebelumnya?WBS memang sudah ada sejak tahun 2011. Tapi waktu itu salurannya hanya satu melalui drop box. Saat ini dengan tag line baru KAWAL (buka, bawa dan laporkan), kita buka tujuh saluran, mulai dari email, fax, SMS, hingga PO Box. Yang penting bagaimana membentuk trust. Tanpa itu, sistem ini tidak efektif. Akan banyak yang melaporkan, ketika sudah ada kepercayaan. Orang akan merespon ketika ada trust. Mereka mesti yakin terlebih dahulu bahwa pengaduan yang dilaporkan benar-benar secara obyektif dikaji. Kepercayaan ini tidak dapat langsung muncul, perlu waktu.

Ada anggapan KAWAL malah membuat saling curiga antar pekerja..Saya bisa mengerti anggapan awam terkait KAWAL. Seolah-olah melaporkan teman. Kok sadis amat. Perspektif harus diubah. Kita menolong teman yang mau terjerembab, lebih mengedepankan pencegahan sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Sama seperti kasih sayang kita ke anak. Ketika anak menyimpang, apa yang kita lakukan? Pertama-tama tentunya sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akan diingatkan dan dinasihati baik-baik, namun apabila tidak diperhatikan dan tetap dilakukan “terpaksa” akan kita jewer, kasih sanksi supaya tidak melenceng lebih jauh.

Laporan pengaduan itu bertujuan untuk organisasi agar lebih baik lagi. Dinamika di SKK Migas sangat tinggi. Ada anggapan SKK Migas seperti “gadis cantik”. Jika sadar itu, ya kita mesti lebih hati-hati.

Bagaimana jika ada perintah atasan yang dianggap menyimpang ketentuan?Bawahan tidak perlu takut untuk menjelaskan dan berargumen tentang potensi atas tindakan itu. Jika tidak berhasil, laporkan melalui WBS. Meski sakit, ini lebih baik ketimbang sudah terjebur masuk ke ranah hukum. Kita sudah ground zero, sekarang harus membuat rencana untuk bangkit. Semangat kearah yang lebih baik. Tanpa ada kompromi untuk hal yang tidak patut.

Bagaimana jika pengaduan yang ingin disampaikan terkait dengan pimpinan?Itu yang harus diyakinkan kepada seluruh pekerja bahwa ada komitmen penuh untuk perbaikan. Meski pengaduan untuk pimpinan, tetap akan diproses. Ada mekanisme khusus apabila pengaduan untuk pimpinan dan ini sesuai dengan “best practice” sehingga dapat dipastikan secara tatakelola bahwa aduan untuk pimpinan akan ditindaklanjuti. Saya berharap komitmen ini bisa konsisten.

Setiap rapat pimpinan, saat ini ada “safety briefing”. Ketika pembahasan satu topik yang krusial, diumumkan bahwa jika ada pimpinan yang punya benturan kepentingan terkait tema yang dibahas untuk declare. Nanti pimpinan rapat yang menentukan, apakah yang bersangkutan bisa ikut rapat atau tidak. Ini sudah jadi komitmen pimpinan. Butuh proses, tapi setidaknya sudah dimulai. Upaya lain terkait benturan kepentingan, saya keluarkan surat himbauan untuk rangkap jabatan komisaris. Posisi ini kebanyakan di level pimpinan. Langkah ini adalah langkah awal untuk melindungi, sekaligus membangun kepercayaan.

Menurut saya, pimpinan yang harus pertama melakukan instropeksi dan perbaikan. Pimpinan harus bisa menunjukkan bukti ada komitmen. Jika pekerja melihat ini, secara otomatis yang di bawah akan mengikuti. Saya melihat bahwa niat itu ada.

Upaya lain yang akan dilakukan?Untuk jangka pendek akan dilaksanakan fraud investigation dan fraud risk assesment. Berkaca dari kejadian yang lalu, kita akan petakan, fact finding, sehingga bisa tahu apa yang jadi root cause. Kemudian, risk yang ada di-assement, lalu solusinya apa. Tahap pertama diharapkan selesai akhir tahun. Tapi untuk risiko dan solusi yang komprehensif akan berlanjut mungkin sampai tahun depan.

Selain itu, saya akan menerapkan sistem IT terintegrasi. Sistem ini bisa menjaga dan mendorong transparansi. Kontak manusia diminimalisir. Jadi celah, lubang, godaan untuk perbuatan tidak baik jauh berkurang. Dengan sistem ini, alur jadi terjaga.

Upaya perbaikan di SKK Migas tidak akan berhasil jika ada kompromi-kompromi. Perbaikan harus total, jangan setengah-setengah. Kita harus berubah untuk mendapat kepercayaan stakeholders. Permisif dan enjoy dengan hal yang tidak patut harus dihentikan. Sebaliknya, teman-teman yang sebelumnya tidak nyaman dengan praktek tidak baik, diharapkan kedepan bisa jadi terbebas dan bekerja lebih professional. Kuncinya, tunjukkan integritas. (ACU)

 

Top