Pengeboran Sumur Proyek Banyu Urip Dimulai

Tue, 30 April 2013 12:18 David Pratama

Home Berita

Surabaya – Pengeboran 42 sumur di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, di Bojonegoro, Jawa Timur, segera dimulai. Rencananya, akan dibor 29 sumur produksi dan 13 sumur injeksi. Dengan tahapan ini, produksi puncak blok sebesar 165.000 barel minyak per hari dapat dicapai di akhir tahun 2014.

"Tahap pertama dibor delapan sumur baru di tapak (well pad) B," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini saat peresmian pengeboran sumur Lapangan Banyu Urip di Bojonegoro, Selasa (30/4). Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Hulu Pertamina, M. Husen, Direktur Utama Pertamina EP Cepu, Amril Thaib, Asisten Perekonomian Kabupaten Bojonegoro, Nono Purwanto, dan Vice President Public and Government Affairs, Mobil Cepu Ltd., Erwin Maryoto.

Rudi menjelaskan, setelah itu, secara berurutan dibor sumur baru di well pad C dan penambahan sumur di well pad A. Ke-42 sumur tersebut dibor menggunakan dua rig (tipe skidding rig) yang dibangun dan dioperasionalkan oleh perusahaan nasional. "Membanggakan karena putra putri Indonesia sudah bisa membangun rig berteknologi baru dan cukup canggih ini," katanya.

Sebagai informasi, selain pengeboran sumur, saat ini sedang dibangun fasilitas produksi lainnya yang terbagi menjadi lima proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC). Sampai saat ini, kemajuan konstruksi secara keseluruhan lima EPC itu mencapai 51 persen. "Mudah-mudahan produksi minyak awal (first oil) sebesar 90.000 ribu barel per hari dapat dicapai Agustus 2014," kata Rudi. Jumlah tersebut sudah termasuk dari produksi dari Gas Oil Separation Plant (GOSP) yang saat ini sudah berproduksi sekitar 26.000-28.000 barel per hari.

Kemudian, secara bertahap selama tiga bulan, produksi akan meningkat hingga produksi puncak sebesar 165.000 barel per hari. Artinya, paling cepat November 2014produksi puncak dapat tercapai. "Produksi puncak tersebut akan tertahan selama lebih dari 3 tahun," kata Rudi.

SKK Migas meminta kepada semua pihak, terutama MCL dan Kontraktor EPC, untuk bekerjasama dalam menyelesaikan proyek sesuai dengan komitmen yang tercantum dalam kontrak. Rudi menegaskan, proyek ini penting dan strategis untuk ketahanan negara dalam bidang energi. Apabila proyek ini dapat berjalan seperti yang direncanakan, Lapangan Banyu Urip dapat memberikan kontribusi produksi minyak sekitar 16,5 persen dari target produksi minyak nasional pada akhir 2014.

Angka ini merupakan hal yang sangat berarti bagi pendapatan Negara. Oleh karena itu, proyek Banyu Urip harus dapat terlaksana sesuai dengan sasaran proyek. "Syaratnya, sesuai dengan waktu, mutu, biaya, taat terhadap semua peraturan, serta dilaksanakan dengan aman dan selamat," kata dia.

SKK Migas mengapresiasi pemerintah daerah, masyarakat, dan instansi terkait yang telah mendukung penuh proyek strategis ini. Misalnya, penerbitkan izin-izin yang diperlukan dan membantu proses pembebasan tanah agar proyek dapat dimulai pelaksanaannya.

Erwin menambahkan, MCL dan kontraktornya telah melibatkan potensi daerah, antara lain dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada warga sekitar yang memenuhi syarat untuk dapat bekerja pada proyek ini. Pemerintah daerah Bojonegoro juga dilibatkan dalam pelaksanaan pelatihan-pelatihan yang diperlukan untuk kegiatan proyek Banyu Urip ini. "Kerja sama dan koordinasi yang baik ini akan terus dijaga," katanya. (ACU)

Top